← Semua picks

Stack Comparison Conditional

Supabase vs Neon vs PlanetScale untuk database startup 2026

Tiga managed database dengan filosofi berbeda. Supabase = Postgres + backend lengkap. Neon = Postgres serverless dengan branching. PlanetScale = MySQL/Postgres skala besar. Objektif, tanpa hype, dengan tabel perbandingan.

6 Juli 2026 · 10 menit ·Use case: Database managed untuk startup Indonesia 2026
SupabaseNeonPlanetScalePostgreSQLMySQL

TL;DR

  • Supabase: Postgres plus backend lengkap — auth, storage, realtime, auto-API. Recommended untuk startup yang mau merakit produk cepat dengan satu platform.
  • Neon: Postgres serverless murni dengan branching dan scale-to-zero. Recommended untuk tim yang mau Postgres bersih plus dev workflow modern.
  • PlanetScale: MySQL berbasis Vitess (kini juga Postgres) untuk skala write horizontal dan schema change tanpa downtime. Recommended kalau pertumbuhan besar sudah terukur.
  • Verdict: Conditional. Ketiganya bagus untuk use case yang tepat. Jangan pilih berdasarkan hype — pilih berdasarkan bentuk beban kerja dan tahap startup Anda.

Konteks

Tiga produk ini sering muncul di shortlist yang sama saat startup memilih database managed, padahal filosofinya berbeda jauh:

  • Supabase menjual dirinya sebagai “open source Firebase alternative” — bukan sekadar database, tapi backend-as-a-service di atas Postgres.
  • Neon fokus pada satu hal: Postgres serverless yang bersih, dengan inovasi utama di branching dan pemisahan compute-storage.
  • PlanetScale lahir dari Vitess (teknologi sharding MySQL yang dipakai skala besar), lalu memperluas ke Postgres — orientasinya ke keandalan dan skala.

Artikel ini membandingkan keempat dimensi yang paling menentukan untuk startup: model, pricing, developer experience (DX), dan scaling — lalu ditutup dengan kapan memilih mana. Angka spesifik pricing sengaja saya jaga dalam kisaran karena tarif ketiga produk berubah cukup sering; selalu verifikasi ke halaman resmi.

Perbandingan singkat

DimensiSupabaseNeonPlanetScale
Engine dasarPostgreSQLPostgreSQLMySQL (Vitess), juga Postgres
Model produkBackend lengkap (BaaS)Postgres serverless murniManaged DB skala besar
Fitur unggulanAuth, storage, realtime, auto-APIBranching, scale-to-zeroSharding horizontal, online schema change
Free tierAda, cukup royalAda, berbasis compute+storageTerbatas/berbayar
Cocok untukMVP cepat, tim kecilPostgres bersih + dev workflowSkala write besar
Open sourceYa (core)Sebagian (Postgres engine)Vitess open source

Model — apa yang sebenarnya Anda beli

Supabase: database plus backend

Supabase bukan hanya database. Yang Anda dapat dalam satu proyek:

  • PostgreSQL penuh — Postgres asli, bukan fork, jadi semua ekstensi dan fitur Postgres tersedia.
  • Auth — sistem login/register lengkap dengan email, OAuth (Google, GitHub, dll), magic link, dan Row Level Security terintegrasi.
  • Storage — object storage untuk file dan gambar dengan kontrol akses.
  • Realtime — subscribe ke perubahan tabel via WebSocket.
  • Auto-generated API — REST dan GraphQL otomatis dari skema, plus client library.
  • Edge Functions — serverless functions untuk logika custom.

Untuk startup Indonesia dengan tim 1-3 orang, ini berarti Anda tidak perlu merakit auth, storage, dan API layer sendiri. Trade-off-nya: Anda mengadopsi satu platform yang cukup opinionated, dan sebagian fitur (misalnya Row Level Security) punya learning curve tersendiri.

Neon: Postgres serverless, titik

Neon sengaja tidak mencoba jadi backend lengkap. Ia menawarkan Postgres serverless dengan dua inovasi arsitektural:

  • Pemisahan compute dan storage. Compute bisa scale independen dari storage, dan bisa scale-to-zero saat idle — Anda tidak membayar compute untuk database yang sedang tidak dipakai.
  • Branching copy-on-write. Bikin cabang database instan tanpa menyalin seluruh data secara fisik.

Filosofinya: kalau Anda sudah punya stack sendiri (misalnya Next.js dengan auth via Clerk/NextAuth dan storage via S3/R2), Anda cuma butuh Postgres yang bersih dan modern. Neon mengisi peran itu tanpa memaksa Anda ke ekosistem tertentu.

PlanetScale: dibangun untuk skala

PlanetScale berakar di Vitess, layer yang membuat MySQL bisa di-shard horizontal — teknologi yang teruji di skala sangat besar. Karakteristiknya:

  • Orientasi ke keandalan dan skala ketimbang kelengkapan fitur backend.
  • Online schema change — mengubah skema di production tanpa mengunci tabel, lewat workflow deploy request yang mirip pull request untuk database.
  • Awalnya MySQL-only, kini juga menawarkan Postgres.

PlanetScale bukan tempat memulai MVP hobby-project; ia paling masuk akal saat skala sudah jadi kebutuhan nyata.

Pricing — gambaran umum

Catatan penting: angka pricing ketiga produk berubah cukup sering, jadi berikut gambaran umum, bukan tarif pasti. Verifikasi selalu ke halaman pricing resmi.

AspekSupabaseNeonPlanetScale
Free tierAda — cocok MVP & hobiAda — berbasis compute+storageTerbatas / cenderung berbayar
Paket berbayar awalKisaran belasan dolar/bulanBertingkat, mulai kecilEntry lebih tinggi
Model penagihanPer proyek + usageCompute-hours + storageBerbasis skala + usage
Scale-to-zeroTerbatas (proyek bisa di-pause)Ya, nativeTidak (orientasi always-on)

Poin praktis untuk startup Indonesia:

  • Bootstrap / MVP: Supabase dan Neon punya free tier yang cukup untuk mulai tanpa keluar biaya. Cocok untuk validasi ide dan tahap pra-revenue.
  • Neon scale-to-zero menguntungkan untuk proyek dengan traffic tidak merata (staging, internal tool, side project) karena Anda tidak membayar compute saat idle.
  • PlanetScale sudah lama menggeser posisinya ke tim yang siap membayar untuk keandalan dan skala; entry point-nya umumnya lebih tinggi, jadi kurang ideal sebagai titik awal biaya-minimum.

Untuk billing dalam Rupiah, ketiganya menagih dalam USD via kartu kredit, jadi perhitungkan fluktuasi kurs dalam anggaran. Kalau ini jadi kendala, lihat juga opsi self-host Supabase di VPS regional sebagai jalan menekan biaya (dengan konsekuensi Anda mengurus ops sendiri).

Developer experience (DX)

Supabase

DX Supabase kuat untuk kecepatan dari nol ke fungsional:

  • Dashboard lengkap: table editor, SQL editor, log, auth management, storage browser.
  • Client library resmi (JS/TS, Flutter, Python, dll) yang membungkus auth + query + realtime.
  • CLI untuk migration lokal dan sinkronisasi skema.
// Query + auth langsung dari client, tanpa backend terpisah
import { createClient } from '@supabase/supabase-js'

const supabase = createClient(URL, ANON_KEY)

const { data, error } = await supabase
  .from('produk')
  .select('*')
  .eq('kategori', 'elektronik')

Trade-off: karena banyak fitur, permukaan yang harus dipelajari juga lebih luas — terutama Row Level Security yang wajib dipahami sebelum production supaya data tidak bocor.

Neon

DX Neon terasa seperti “Postgres seperti biasa, tapi lebih pintar”:

  • Anda pakai Postgres standar — driver, ORM (Prisma, Drizzle, Kysely), dan tool apa pun jalan tanpa modifikasi.
  • Branching adalah pembeda utama untuk workflow tim.
# Bikin branch database untuk sebuah PR — instan, copy-on-write
neonctl branches create --name pr-142

# Jalankan migration & test di branch, tanpa menyentuh production
# Hapus saat PR ditutup
neonctl branches delete pr-142

Integrasi dengan Vercel dan GitHub membuat setiap preview deployment bisa otomatis dapat database branch sendiri. Untuk tim yang disiplin dengan PR workflow, ini penghematan waktu debugging yang nyata.

PlanetScale

DX PlanetScale berpusat pada safety di production:

  • Deploy request — perubahan skema diperlakukan seperti PR: diajukan, direview, lalu di-deploy tanpa lock tabel.
  • Branching database juga tersedia (mirip konsep Neon, dengan penekanan pada schema workflow).
  • Insight query bawaan untuk menemukan query lambat.

Konsekuensi dari akar Vitess (untuk jalur MySQL): historisnya ada batasan seperti dukungan foreign key yang perlu penanganan khusus. Ini trade-off yang wajar untuk kemampuan sharding, tapi harus Anda ketahui di awal supaya desain skema tidak salah arah.

Scaling

KarakteristikSupabaseNeonPlanetScale
Model scalingVertical (upgrade instance), read replicaServerless: compute autoscale + scale-to-zeroHorizontal sharding (Vitess)
Batas praktisSingle-node Postgres yang besarPostgres serverless, batas storage tinggiDirancang untuk skala sangat besar
Write-heavy ekstremPerlu perencanaan lebihPerlu perencanaan lebihKekuatan utama
Idle costBisa pause proyekScale-to-zero nativeCenderung always-on

Poin kunci: Supabase dan Neon keduanya di atas single-node Postgres (dengan read replica untuk baca). Ini cukup untuk mayoritas startup sampai skala menengah-besar — jangan meremehkan seberapa jauh single Postgres yang di-tune dengan baik bisa membawa Anda. PlanetScale baru benar-benar unggul saat Anda menabrak batas write single-node dan butuh sharding horizontal.

Anti-pattern yang sering saya lihat di komunitas dev Indonesia: memilih database “yang bisa scale ke jutaan user” padahal produk belum punya seribu user. Skala adalah masalah yang bagus untuk dimiliki nanti — jangan bayar kompleksitasnya di depan.

Untuk konteks Indonesia

  • Latency region. Ketiganya menawarkan region Asia (umumnya Singapura sebagai yang terdekat). Untuk pengguna Indonesia, region Singapura memberi latency yang wajar. Pastikan memilih region terdekat saat membuat proyek — salah region adalah penyebab umum latency yang tidak perlu.
  • Billing USD. Semua menagih dalam USD; perhitungkan kurs untuk anggaran startup bootstrap.
  • Talent pool. Postgres punya basis developer yang luas di Indonesia, jadi Supabase dan Neon (keduanya Postgres) lebih mudah dari sisi hiring dibanding stack yang lebih niche.
  • Self-host sebagai opsi hemat. Supabase bisa di-self-host di VPS regional (Jakarta/Singapura) untuk menekan biaya — dengan konsekuensi Anda menanggung beban operasional sendiri.

Verdict

Pilih Supabase kalau:

  • Tim kecil dan mau merakit produk secepat mungkin.
  • Butuh auth, storage, realtime, dan API tanpa merakit sendiri.
  • Nyaman dengan satu platform yang opinionated.

Pilih Neon kalau:

  • Sudah punya stack sendiri dan cuma butuh Postgres yang bersih dan modern.
  • Menghargai branching untuk dev workflow dan preview deployment.
  • Traffic tidak merata dan scale-to-zero menghemat biaya.

Pilih PlanetScale kalau:

  • Pertumbuhan write besar sudah terukur, bukan hipotetis.
  • Butuh sharding horizontal dan online schema change tanpa downtime.
  • Siap membayar untuk keandalan skala besar.

Untuk mayoritas startup Indonesia tahap awal, pilihan realistis ada di antara Supabase (kalau mau bergerak cepat dengan backend lengkap) dan Neon (kalau mau Postgres murni dengan dev workflow modern). PlanetScale adalah pilihan yang sangat baik, tapi ia menjawab masalah skala yang sebagian besar startup belum miliki.

Ketiganya adalah tools yang matang. Yang salah bukan produknya — yang salah adalah memilih berdasarkan skala yang Anda bayangkan, bukan skala yang Anda punya hari ini.

Ditulis oleh Asti Larasati

// Pick Stack Comparison lain


← Semua picks RSS feed